LANGOWANNEWS Tidak pernah ada yang menyangka, sebuah wawancara yang awalnya berlangsung seperti agenda jurnalistik biasa bersama jajaran Humas Polda Sulawesi Utara, justru menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhir bagi rekan-rekan media dengan Kombes Pol Steidy Raranta, S.I.K.
Pertemuan singkat itu meninggalkan kesan mendalam. Di tengah pembahasan mengenai tugas kehumasan kepolisian dan pentingnya keterbukaan informasi publik, tidak ada yang menyangka bahwa kebersamaan tersebut akan menjadi bagian dari sebuah kenangan yang sulit dilupakan.
Dalam wawancara tersebut, Kombes Pol Steidy Raranta menekankan pentingnya peran Humas dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Humas bukan sekadar menyampaikan kegiatan institusi, tetapi menjadi salah satu jembatan komunikasi antara kepolisian, media, dan masyarakat.
Menurutnya, berbagai kegiatan kepolisian maupun aktivitas masyarakat perlu disampaikan secara terbuka agar masyarakat memperoleh informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Peran tersebut, kata dia, tidak dapat dilepaskan dari keberadaan insan pers. Rekan-rekan media menjadi bagian penting dalam membantu menyebarluaskan informasi sehingga berbagai kegiatan dan pelayanan kepolisian dapat diketahui masyarakat secara lebih luas.
Perjalanan pengabdiannya di institusi Polri juga cukup panjang. Ia pernah menjalani pendidikan di Lemdiklat Polri, kemudian bertugas di Bangka Belitung dan Kalimantan Tengah selama kurang lebih 11 tahun. Setelah itu, ia menjalani penempatan di Nusa Tenggara Timur (NTT) selama sekitar enam tahun, sebelum melanjutkan pengabdian di wilayah lainnya.
Namun, perjalanan tugas di Sulawesi Utara ternyata berlangsung begitu singkat. Baru beberapa hari menjalankan tugas, pertemuan dengan rekan-rekan media justru menjadi wawancara pertama sekaligus terakhir.
Bagi wartawan yang hadir dalam pertemuan tersebut, momen itu kini memiliki makna berbeda. Percakapan yang awalnya hanya menjadi bagian dari aktivitas jurnalistik berubah menjadi sebuah kenangan tentang sosok yang pernah hadir, berbagi cerita, dan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya komunikasi publik.
Ada satu kalimat yang kemudian terasa begitu dalam: “Begitulah rancangan Tuhan. Kita manusia tidak mengetahui apa yang menjadi rancangan Tuhan.”
Kalimat tersebut menjadi refleksi bahwa perjalanan manusia tidak pernah sepenuhnya dapat diprediksi. Ada pertemuan yang berlangsung singkat, namun meninggalkan jejak panjang dalam ingatan.
Wawancara itu pun menjadi saksi kecil dari perjalanan pengabdian Kombes Pol Steidy Raranta, S.I.K. di tubuh Polri. Bagi rekan-rekan media Humas Polda Sulut, pertemuan tersebut bukan lagi sekadar agenda wawancara, tetapi sebuah kenangan yang akan terus melekat: wawancara pertama, sekaligus wawancara terakhir.
Sebab pada akhirnya, manusia hanya menjalani tugas dan pengabdian sebaik mungkin. Selebihnya, tentang bagaimana perjalanan itu berakhir dan ke mana langkah berikutnya diarahkan, tetap menjadi bagian dari rancangan Tuhan yang tidak pernah diketahui manusia.(Fonny Raranta)













