Tomohon LANGOWANNEWS.COM Kepanikan melanda lingkungan Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) pada Kamis malam (11/09), setelah puluhan mahasiswa yang tinggal di asrama kampus mendadak mengalami gejala keracunan usai menyantap makan malam. Insiden ini sontak mengejutkan warga kampus dan memicu respons cepat dari pihak rumah sakit serta Dinas Kesehatan Kota Tomohon.
Gejala awal berupa mual, muntah, sakit perut, dan diare muncul hampir bersamaan sekitar pukul 21.00 WITA. Beberapa mahasiswa dilaporkan pingsan akibat dehidrasi parah sehingga harus segera dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS GMIM Bethesda Tomohon. Hingga Jumat dini hari, jumlah korban yang dirawat sudah lebih dari 30 orang.
“Gejala utama yang kami temukan adalah diare akut dan muntah. Ini sangat khas keracunan makanan, tetapi penyebab pastinya masih menunggu hasil laboratorium,” ujar salah satu dokter jaga IGD RS GMIM Bethesda. Meski sebagian besar pasien dalam kondisi stabil, pihak rumah sakit tetap melakukan observasi intensif selama 24 jam.
Menurut kesaksian mahasiswa, makanan malam itu terlihat normal tanpa tanda mencurigakan. Namun, hanya beberapa jam setelah dikonsumsi, keluhan massal bermunculan. Pihak kampus langsung menutup layanan makanan dari dapur asrama untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Humas UKIT menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut dan menegaskan bahwa investigasi internal telah berjalan. “Kami sangat menyesalkan kejadian ini. Semua langkah darurat sedang diambil, termasuk koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pengawasan ketat penyediaan makanan di asrama,” ujar salah satu pejabat UKIT.
Dinas Kesehatan Kota Tomohon telah menurunkan tim inspeksi sejak malam kejadian. Hasil awal mengindikasikan kemungkinan kontaminasi bakteri pada salah satu komponen makanan. “Kami menegaskan kembali pentingnya protokol kebersihan dalam pengolahan makanan, mulai dari bahan baku, proses memasak, hingga penyajian,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tomohon.
Kasus ini menimbulkan kecemasan di kalangan orang tua mahasiswa, terutama karena mayoritas penghuni asrama berasal dari luar daerah dan sangat bergantung pada fasilitas kampus untuk konsumsi harian. Beberapa orang tua mendesak pihak kampus memberi transparansi penuh terkait penanganan kasus ini.
Sebagai langkah lanjut, UKIT berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh atas sistem pengelolaan makanan. Rencana itu mencakup audit pemasok bahan, pelatihan ulang staf dapur, hingga kemungkinan mengganti kebijakan layanan katering. Selain itu, posko pengaduan serta jalur komunikasi bagi keluarga mahasiswa telah dibuka.
Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan korban jiwa dan tidak ada pasien dalam kondisi kritis. Namun, pihak medis mengingatkan bahwa gejala lanjutan bisa muncul, sehingga pengawasan tetap dilakukan. Investigasi laboratorium diperkirakan selesai dalam beberapa hari ke depan.
Insiden ini menjadi alarm penting bagi institusi pendidikan dengan fasilitas pemondokan agar tidak mengabaikan aspek sanitasi makanan. Dengan mahasiswa sebagai kelompok rentan, keamanan konsumsi harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Publik kini menanti langkah nyata UKIT untuk memastikan kasus serupa tidak kembali terulang.(FORA)













